MARIA ( THE UNTOLD STORY)

 




Peringatan:
JANGAN CARI TAU LOKASI APARTEMENNYA!!


Cerita ini berawal dari kegemaranku membaca cerita horor di internet. Jangan kalian pikir aku ini percaya hal mistis, tidak. Aku orang yang mengedepankan logika, bagiku semua hal harus bisa dijelaskan secara logis dan ilmiah. Aku senang saja membaca cerita-cerita horor itu. Berpikir apa sebenarnya yang ada di dalam benak penulisnya. Apakah mereka sebenarnya berbohong soal pengalaman mistisnya, atau sekedar halusinasi belaka.

Sampai akhirnya aku membaca cerita tentang sosok hantu bernama Maria. Sosok Maria ini digambarkan unik, tidak seperti hantu kebanyakan. Dibanding sosok seram, penulisnya malah menggambarkan Maria sebagai sosok hantu cantik dan menggemaskan. Karena ketertarikan ekstra ini aku menghubungi penulisnya melalui media sosial. Kemudian kami mulai sering mengobrol, lebih tepatnya berdebat, soal eksistensi makhluk dunia lain.

Minggu lalu aku berkesempatan mengunjungi Jakarta untuk keperluan bisnis. Setelah urusanku selesai aku menghubungi Maria, aku memanggilnya begitu karena aku tak tahu namanya, mengabarkan kalau aku sedang di Jakarta. Menanyakan padanya apa dia punya waktu bertemu. Dia katakan dia akan menemuiku di hotel tempat aku menginap besok malam.

Keesokan malamnya bel pintu kamarku berbunyi sekitar jam 9 malam. Aku bergegas membukakan pintu. Terlihat seorang perempuan berdiri tepat di depanku. Perempuan dengan wajah oriental berumur tiga puluhan. Dia tampak anggun namun juga penuh misteri. Kesan yang seharusnya dipunyai seorang penulis cerita horor, pikirku.

Dia mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Maria," katanya. "Ibal. Silahkan masuk!" ku jabat tangannya.

"Mau minum apa?" tanyaku setelah Maria duduk.

"Capuccino aja."

Aku bergegas ke bar dan membuat dua gelas capuccino dari mesin pembuat kopi.

"Jadi kau masih tak percaya hantu?" tanyanya setelah aku duduk di depannya. Sebelum menjawab pertanyaannya aku mengambil sebatang rokok, menyalakan, lalu menghisapnya. Kuteguk sedikit capuccino yang masih panas itu.

"Tentu saja tidak. Aku mengundangmu kesini untuk membuktikan omonganmu soal hantu. Jadi ceritakan pengalamanmu bertemu dengan hantu itu."

"Baiklah kalau kau ingin mendengarkan," lanjut Maria sembari menarik nafas dalam.

"Suatu malam aku baru saja pulang kerja, aku ingat hari itu aku lembur." Maria berhenti sejenak untuk meneguk capuccinonya. "Aku merasa ada seseorang yang mengikutiku semenjak dari kantor sampai apartemenku."

"Ketika aku tiba di loby apartemen, aku merasa ada yang janggal. Security yang berjaga bukan yang biasanya, tapi aku tak menaruh curiga."

Aku mulai mendengarkan cerita Maria dengan serius.

"Aku langsung naik ke apartemenku di lantai lima. Karena sangat lelah, aku ingin segera mandi. Namun saat sedang mandi tiba-tiba saja ada yang memainkan lampu," Maria memandangku dengan sorot yang tajam.

"Apa itu kerjaan makhluk astral?" tanyaku.

"Mungkin, mereka mencoba berkomunikasi denganku. Aku juga tak tahu pasti. Tapi tak lama semua normal kembali, akupun bergegas menyelesaikan mandiku."

"Saat aku berniat untuk tidur, terdengar ketukan di pintu apartemenku. Ketika ku intip, ternyata security yang berjaga di loby tadi. Dia bilang akan mengantarkan barang yang dititipkan seseorang."

"Ketika aku membuka pintu tiba-tiba ada dua temannya bersembunyi. Mereka langsung menyergap dan mengikatku di tempat tidur. Ternyata ketiga orang itu adalah penjahat yang hendak merampok."

"Setelah mengobrak abrik isi apartemenku dan menguras isi brankasku, ketiga orang itu masih belum puas. Mereka berusaha memperkosa aku. Namun kau tahu apa yang terjadi?"

Aku menelan ludah mendengar cerita Maria, tertegun dengan apa yang baru saja ku dengar. 

"Mereka tiba-tiba saja melarikan diri, meninggalkan semua hasil jarahannya."

"Kenapa mereka kabur begitu saja? Sungguh tak masuk akal," kataku.

Maria menengguk capuccinonya lagi sebelum melanjutkan. Aku pun membakar rokok keduaku dan menghisapnya. Lumayan untuk meredakan ketegangan mendengar ceritanya barusan.

"Awalnya aku juga tak mengerti. Sampai aku melihat di salah satu pojok kamarku. Penampakan hantu perempuan berbaju putih yang sangat menyeramkan. Wajahnya yang rusak dipenuhi belatung. Yang paling mengerikan, lehernya yang nyaris putus tak henti-henti mengucurkan darah. Saat itu aku langsung tak sadarkan diri."

Aku kembali menelan ludah mendengar ceritanya. Maria memandangku dengan senyuman penuh misteri. Seolah dia mengetahui ketegangan yang menyeliputiku.

"Sekarang apa kau sudah percaya dengan keberadaan makhluk astral?" tanyanya memecah lamunanku.

"Hahaha ... Tentu saja aku masih tidak percaya. Bisa saja kau berbohong dan mengarang cerita itu."

"Kau ini memang susah untuk diyakinkan, hingga kau sendiri mengalaminya."

"Ngomong-ngomong kau tinggal di apartemen mana?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan sekaligus mengusir ketegangan yang dari tadi menguasaiku.

Maria menyebutkan sebuah apartemen di bilangan Jakarta Utara. Dia tinggal di kamar 53 tower C. Dia memilih tinggal di apartemen itu karena tak jauh dari kantornya bekerja.

"Boleh aku pinjam kamar mandimu? Aku ingin buang air kecil," katanya.

"Silahkan!"

Sambil menunggu Maria menyelesaikan urusannya di kamar mandi, ada yang mengganggu pikiranku. Aku merasa pernah mendengar apartemen yang disebutkan Maria. 

Kuambil gawaiku dan mengetik kata kunci di mesin pencarian. Keringat jagung mulai keluar dari pori-pori kulitku. Jantung berdebar dengan sangat cepat.
Aku membaca berita bulan lalu. Berita tentang seorang perempuan yang bunuh diri di sebuah apartemen. Berita itu menuliskan dengan jelas korban tinggal di kamar 53 tower C, korban bernama MARIA!

END
#CREEPERIUS
Lebih baru Lebih lama