LUKA DI ATAS DERITA

Sinopsis : Curhatan seorang istri yang di jodohkan tanpa dikasih sayang hingga mempunyai seorang anak.

Luka Di Atas Derita

Aku menarik nafas panjang, berharap sakit yang kurasa dapat sedikit berkurang. Perut buncitku sepertinya mulai kontraksi dan sudah waktunya mengeluarkan isi. 

"Bang, perutku sakit." Kuguncang tubuh suamiku yang masih terlelap. Dia hanya menggeliat sambil kembali menarik selimut.

"Bang, bang, sepertinya aku mau melahirkan."

"Ah, ganggu orang tidur saja." Dia malah menutup wajahnya dengan selimut.

Ya Allah, entah apa yang ada di pikirannya. Sejak awal pernikahan hingga sekarang, saat aku akan melahirkan untuk ke dua kali, tak pernah ada kasih sayang yang tulus. Setelah kegagalan anak pertama, yang berpulang setelah beberapa jam menghirup udara, ia semakin tak peduli. Mungkin baginya aku hanya seorang budak nafsu dan juga pembantu. Bila tak cinta, mengapa dia membuatku hamil? Lebih baik ceraikan saja aku, agar penderitaan ini segera berakhir.

Kami memang dijodohkan, tapi paling tidak bertanggung jawablah atas anak-anaknya. Dengan menahan sakit yang semakin menjadi, perlahan kulangkahkan kaki untuk mencari bantuan ke tetangga. Nahas, tak ada yang peduli, karena mereka masih kerabat suamiku. Mungkin bila bunuh diri itu dibolehkan, aku sudah mengakhiri hidup sejak dulu.

Akhirnya aku sampai juga di rumah bidan yang tak jauh dari rumahku, meski memakan waktu cukup lama. Bidan itu terkejut melihatku datang sendirian.

"Rena, kamu datang sama siapa? Ayo cepat masuk." Bu bidan memapahku menuju tempat tidur. Beberapa jam kemudian anakku lahir tanpa pendampingan siapapun. Ada bahagia, tapi ada sesak yang mengganjal di dada. 

Menjelang siang suamiku datang bersama orang tuanya. Bukan ucapan selamat atau ciuman bahagia yang kuterima melainkan umpatan dan caci maki.

"Dasar perempuan tak tahu diri! Kau ingin mempermalukan kami? Biar orang menyangka kami tidak bisa mengurusmu?" Aku hanya diam mendengarnya. Sakit melahirkan belum hilang benar, kini aku harus mendengar kata-kata yang menggores hati. Entah sampai kapan hal ini akan kualami.

Mereka memaksaku untuk pulang ke rumah, meski bu bidan sudah melarang dan memintaku untuk tetap tinggal hingga tenaga pulih kembali. Sesampai di rumah, omelan dan cacian semakin banyak kuterima. Aku hanya diam sambil memeluk buah hatiku. Mencoba kuat dan sabar bergumul dengan segala kesakitan. Air mata sudah tak dapat lagi keluar. Diam adalah pilihan yang paling tepat, daripada salah berbicara yang dapat membuatku terkena tamparan dan pukulan. 

Beberapa hari di rumah tak ada yang membantuku. Bahkan makanan pun kumasak sendiri, suamiku makan di rumah orang tuanya yang berjarak beberapa meter dari rumah. Pekerjaan rumah sudah mulai kukerjakan dengan perlahan. Sedih, marah, dan entah apa lagi rasanya berkecamuk di hati. Ingin mengadu tak tahu pada siapa. Aku yatim piatu dan tanteku yang mengatur perjodohan kami, sementara di rumah tante pun aku mendapat perlakuan yang tak jauh berbeda.

Hari itu anakku rewel, entah apa penyebabnya. Aku menyelesaikan pekerjaan sambil menggendongnya. Namun, tangisannya tak juga reda. Menyusui dan menidurkannya tak juga berhasil. 

"Hei, wanita bo**h! Tak bisakah kau mendiamkan anakmu? Sakit telingaku mendengarnya," ucap suamiku.

"Dia kan anakmu juga, Bang. Cobalah bantu aku mengurusnya, mungkin dia ingin digendong oleh ayahnya."

"Cih, kau pikir aku pengasuh bayi. Urus sendiri anakmu." Lelaki itu malah mengambil headset untuk menutup telinganya. Aku hanya menarik nafas panjang sambil terus mendiamkan anakku. 

Tak lama datang ibu mertuaku bersama kakak ipar bermaksud mengajak suamiku pergi. Namun, begitu mendengar tangisan anakku kedua wanita itu masuk ke dalam kamar. Kupikir mereka akan membantu, tapi ternyata aku salah. Mereka malah mengomel dan memarahiku. Menganggapku wanita tak berguna dan tak becus mengurus anak. Mereka menuding-nuding dan sesekali mendorong kepalaku dangan tangan. Tak ketinggalan, suami ikut membenarkan ucapan mereka.

Aku diam. Asik bermain dengan pikiran. Ada rasa yang membuncah di hati seiring dengan suara di pikiranku. Tak kudengarkan lagi ocehan mereka. Aku hanya mengikuti suara yang berbisik di telinga dan pikiran, serta asik mendiamkan bayiku. Perlahan kesunyian menghampiri. Ah, tenangnya. Tak ada lagi suara omelan dan tangisan. 

Kini tinggal aku sendiri, menimang bayiku yang tidak akan pernah menangis lagi untuk selamanya. Sementara suami, ibu mertua, dan kakak ipar kini sudah tidak akan mampu berbicara lagi. Kucampakkan lidah-lidah tak bertulang itu ke sudut ruangan bersama sebuah gunting yang masih basah dengan cairan kental berwarna merah, menyisakan kepuasan di hati saat kesabaran mencapai batas.
Lebih baru Lebih lama